Rabu, 26 Oktober 2011

Home » » Penderita Gizi Buruk Meninggal, Mahasiswa Demo

Penderita Gizi Buruk Meninggal, Mahasiswa Demo

MAJALENGKA, (PRLM).- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Majalengka kembali melakukan aksi demo ke Gedung DPRD Majalengka dan Pendopo terkait adanya penderita gizi buruk yang meninggal dan penderita hydrocephalus yang tidak bisa berobat akibat kemiskinannya.
Para mahasiswa tersebut mengecam dewan dan pemerintah yang dianggapnya tidak peduli terhadap keselamatan jiwa penderita gizi buruk ataupun kemiskinan masyarakat yang saat ini terjadi. Mereka minta dewan dan bupati serta wakil bupati untuk peduli dengan kesehatan warganya terutama dari kaum miskin yang hanya pasrah dengan keadaannya di saat pihak medis mewajibkan pasien untuk menjalani perawatan ataupun operasi yang butuh biaya besar.
Jika melihat kondisi tersebut terjadi, seharusnya pemerintah berupaya menanganinya dengan memberikan fasilitas pengobatan bagi setiap pasien keluarga miskin. Dana Jamkesmas ataupun dana Jamkesda harusnya disediakan bagi keluarga yang benar-benar miskin sehingga tidak salah sasaran. “Pemerintah pun harusnya memiliki data yang akurat mengenai kondisi gizi buruk ataupun pasien lainnya dan segera diupayakan untuk ditangani,” ungkap seorang pendemo.
Para pendemo tersebut sedianya ingin bertemu anggota dewan namun semuanya sedang menjalani masa reses. Mereka pun hanya diterima oleh Sekretaris DPRD H. Udin Abidin. Namun masa yang tidak yakin dengan keberadaan dewan akhirnya berupaya masuk ke gedung dewan serta mencaci maki anggota dewan.
Untuk meluapkan kekecewaaanya para mahasiswa melempari gedung dewan dengan telur, tomat dan bahkan batu. Lemparan batu sempat mengenai bagian kaca jendela hingga pecah.
Dari gedung dewan mereka mendatangi Pendopo dan kembali melakukan orasi hingga mereka berdialog dengan Wakil Bupati Majalengka H. Karna Sobahi dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka dr. Mamam S Gani.
H. Karna menyebutkan, andai kata benar ada pasien yang butuh bantuan, pemerintah akan memfasilitasinya dan memberikan penanganan yang maksimal hingga pasien tersebut sembuh. Pihaknya juga melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka akan segera mengecek kebenaran kasus yang disampikan oleh para mahasiswa tersebut dan segera memberikan penanganan.
Sebenarnya ungkap H. Karna selurih penderita gizi buruk telah ditangani dan diberikan perawatan di Rumah Sakit bagi yang butuh perawatan. Sedangkan yang menjalani perawatan di rumahpun diberikan penanganan dengan memberikan makanan tambahan. Namun penyembuhan tersebut juga harus dilakukan oleh orang tuanya dengan memberikan perlakuan yang baik terhadap anaknya.
“Kalau penderita gizi buruk sudah kita tangani namun kemudian keluarganya tidak melanjutkan penanganan dengan memberikan perlakuan yang khusu terhadap pasiennya maka gizi buruk akan terulang sperti yang terjadi di Nyangkokot dulu,” ungkap H. Karna.(C-28/A-147)***

Sumber: Pikiran Rakyat
Share this article :

Posting Komentar